REPRESENTASI KOMUNIKASI KELUARGA DALAM FILM PERAYAAN MATI RASA MELALUI SEMIOTIKA JOHN FISKE
DOI:
https://doi.org/10.69957/relasi.v6i03.2896Keywords:
Komunikasi Keluarga, Perayaan Mati Rasa, Semiotika John Fiske, Kebuntuan EmosionalAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk membongkar representasi komunikasi keluarga serta fenomena "mati rasa" emosional dalam film Perayaan Mati Rasa karya Umay Shahab. Keluarga modern sering kali menghadapi kebuntuan interaksi di mana kehadiran fisik tidak selaras dengan keterikatan batin. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis teks media, penelitian ini menerapkan teori semiotika John Fiske (The Codes of Television) yang membedah tanda ke dalam tiga tingkatan: level realitas, level representasi, dan level ideologi pada 15 scene terpilih yang merepresentasikan disfungsi dan rekonsiliasi komunikasi. Hasil temuan menunjukkan bahwa level realitas dikonstruksi lewat gestur kaku, keheningan (silence), dan ekspresi mikro tokoh Ian dan Uta. Pada level representasi, kebuntuan emosional diperkuat oleh pencahayaan low-key, sudut kamera eye-level yang intim namun berjarak, serta penataan ruang yang memisahkan karakter. Secara ideologis, film ini mengkritisi mitos maskulinitas patriarki (toxic masculinity) yang menuntut pria menyembunyikan kerapuhan emosional, sekaligus menawarkan ideologi rekonsiliasi bahwa pemulihan hubungan keluarga memerlukan keterbukaan dan penerimaan atas duka bersama. Kesimpulannya, film ini merepresentasikan bahwa komunikasi keluarga bukan sekadar pertukaran pesan verbal, melainkan sebuah ruang emosional yang membutuhkan kehadiran batin yang utuh.
References
Adiyadmo, D. A., & Yusra, D. (2026). REPRESENTASI ID PADA TOKOH UTAMA IAN DALAM FILM PERAYAAN MATI RASA: KAJIAN PSIKOANALISIS. Jurnal Bastra (Bahasa Dan Sastra), 11(2), 615–623.
Fiske, J. (2010). Introduction to communication studies. Routledge. https://api.taylorfrancis.com/content/books/mono/download?identifierName=doi&identifierValue=10.4324/9780203837382&type=googlepdf
Fiske, J. (2017). Reading the popular. Routledge. https://api.taylorfrancis.com/content/books/mono/download?identifierName=doi&identifierValue=10.4324/9780203837252&type=googlepdf
Galvin, K. M., Braithwaite, D. O., & Bylund, C. L. (2015). Family communication: Cohesion and change. Routledge. https://api.taylorfrancis.com/content/books/mono/download?identifierName=doi&identifierValue=10.4324/9781315663982&type=googlepdf
Hasanah, U. (2016). Pola asuh orangtua dalam membentuk karakter anak. Jurnal Elementary, 2(2), 72–82.
Narmada, H. B. (2025). RESEPSI PENONTON TERHADAP REPRESENTASI TOXIC MASCULINITY DALAM FILM PERAYAAN MATI RASA [PhD Thesis, Universitas Amikom Purwokerto]. https://eprints.amikompurwokerto.ac.id/id/eprint/3095/
Nirmala, D., Pujihastuti, E., & Riyanton, M. (2025). REPRESENTASI PESAN MORAL TERHADAP MONOLOG TOKOH UTAMA DALAM FILM PERAYAAN MATI RASA: ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE. Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Undiksha, 15(4), 484–494.
Rahman, A. H., & Wenerda, I. (2025). Representasi Ideologi Patriarki Dalam Film Sabtu Bersama Bapak (Analisis Semiotika John Fiske). COMSERVA Учредители: Publikasi Indonesia, 4(10), 3522–3528.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Mochamad Ryan Refano; Edy Sudaryanto; Hajidah Fildzahun Nadhilah Kusnadi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis yang manuskripnya diterbitkan akan menyetujui ketentuan sebagai berikut:
Hak untuk publikasi semua materi jurnal yang diterbitkan di situs web RELASI: Jurnal Penelitian Komunikasi dipegang oleh dewan editorial dengan sepengetahuan penulis (hak moral tetap menjadi milik penulis).
Ketentuan hukum formal untuk mengakses artikel digital jurnal elektronik ini tunduk pada ketentuan lisensi Creative Commons-NonCommercial-ShareAlike 4.0 (CC BY-SA), yang berarti RELASI: Jurnal Penelitian Komunikasi berhak untuk menyimpan, mengubah format, mengelola di pangkalan data, memelihara dan menerbitkan artikel tanpa meminta izin dari Pencipta selama tetap mempertahankan nama Pencipta sebagai pemilik Hak Cipta.
Naskah yang dicetak dan diterbitkan secara elektronik adalah akses terbuka untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan perpustakaan. Selain tujuan tersebut, dewan editorial tidak bertanggung jawab atas pelanggaran undang-undang hak cipta.








